ASU RANSI

Foto : Erzal Umamit Ibu kehabisan air susunya, kala lambung adik hendak mengunyah. Daun keladi basah badannya, saat hujan hendak bertanya. Adik yang bungsu, lapar sendiri, di sudut dapur, bermain angin. Sudah lama milik kita, milik mereka. Sudah semua nyawa kita, sawah mereka. Sudah semua nadi kita, padi mereka. Sudah semua napas kita, kertas mereka. … Lanjutkan membaca ASU RANSI

ASAL KAU TAHU CERITA JEMBATAN

Foto : Erzal Umamit Dibangun pakai batu kali, karang pantai, pasir tanjung dan air mata. Tak ada asi dalam oligarki, yang terasa seperti kasih sayang ibumu, gendongannya, nyanyiannya. Tak ada air mata dalam kapitalisme, yang terasa murni dan selalu gugur dari langit. Tak ada cinta dalam sistem, yang terasa tulus seperti lebah pada bunga dan … Lanjutkan membaca ASAL KAU TAHU CERITA JEMBATAN

PUERI AMOREA

untuk David Minanlarat Puer, langit masih bayi, bumi sudah berjalan, dan jari-jari dari perasaan, sudah jatuh pada keadaan. Paulah puer, rasa sakit yang paling dekat dengan kerelaan. Sekian musim yang tidak tetap pada dedaunan, sekian lagu yang tembang dan tumbang pada masanya, ialah melankoli manusia, roman geli, yang menghampirimu saban hari. Tetapi puer, sejauh mana … Lanjutkan membaca PUERI AMOREA

SETELAH NYALA API

Foto : Aldander Pical Mendengar gosip saling pukul di tungku, bikin aku melepas mimpi yang sudah hampir mendidih di buku. Kau masihkah abu setelah melihat aku membakar rindu? Api, merah yang merah. Menyala di kepala, menyerupai ayam jantan betina, berkokok lebih banyak dari makan pokok yang ditanam petani dan yang dikumpulkan nelayan. Kau masihkah kain … Lanjutkan membaca SETELAH NYALA API

REAKSI HIDUP

  Bilang pada dunia Kesepian kita adalah karunia Kepahitan kita adalah persoalan bumi Air mata kita adalah hujan lokal yang mulia Langit membiru karena laut tidak ambigu Laut menjadi perak sebab dunia tak selamanya emas   Bilang pada dunia Lutut kita menampung sungut yang luas Bahu kita memikul dampak sistem yang buas Dada kita berbagi … Lanjutkan membaca REAKSI HIDUP

SEPOTONG SAGU

Ruangan apa tadi yang kutemui Begitu sepi, hanya ada kumpulan api dan seorang manusia yang masih menghitung usia seperti menghitung sagu di tangannya menghitung teman-teman di kiri kanannya menghitung kelaparan di hari-hari kemudian ia menyadari sagu tidak takut mati seperti nyawa yang menekan jiwa saat melihat ribuan peti-peti ditabur bunga uang dari peti-peti rumah ibadah, … Lanjutkan membaca SEPOTONG SAGU

DEBAR DI DEBUR

  Sepanjang laut membangun jembatan ombak, aku berlayar dengan sabar membawamu dari kemelut ke depan pintu maut   kau dan segudang peluru kematian tidak memerlukan layar untuk membunuh gemuruh tetapi takut pada rindu yang bersembunyi dalam perasaan   apa jadinya jendela kapal kalau diajak untuk membayangkan pulang dan berdiri di dekat jendela rumah sambil terus … Lanjutkan membaca DEBAR DI DEBUR

DOLO-DOLO TO

#bukanpuisi *hendakceritadipundakkata-kata   dolo-dolo, waktu kapala balabuh di mama pangku dengar carita boya-boya, beta seng mau par tidor beta inga mama pung saki di lutu sayang mama pung karingat yang meleleh ancor tagal beta tahu, mama seng bisa sambunyi diri macam bia beta bisa baca antua hati cuma deng sakali dapalia   dolo-dolo pas di … Lanjutkan membaca DOLO-DOLO TO