SENI ITU SANE

 

Seni membuat kita serahim

Membungkus kita dalam satu placenta

Mengikat kita dalam satu pusar

Di danau ketuban yang sama

 

Bagiku seni mengalir dari air mani

Seni berkumpul di kantong kemih

Seni ada pada klitoris

Seni berbuah vagina dan testis

 

            Seni yang melahirkan kita.

 

Seni membawaku di tanjung Lahena

Melihat perahu melawan ombak dengan semang dua buah

Seni membawaku ke Maluku

Mengalirkan aku di tiga batang air Nunusaku

Seni mengajakku bicara dengan kapua Upu ila kahuresi

Aku kawin dengan mantra menjadi kapitan kabaresi

Seni mengajakku menulis di atas batu salawane

Kubacakan huruf-huruf wemale dan alune

Kusimak panah-panah naulu lari macam peluru

Kutahu seni hidup dalam nadi para pemburu

Kulihat seni bernyali pada perempuan Tihulale yang mengolah sagu di goti

Dengan kaki telanjang sambil menganyam tumang dan kamboti

Mena mena mena, mena muria

Kulihat seni menari-menari cakalele

Hu hu hu : kudengar seni bergema dari tahuri, mengikat cinta dengan kain salele

Kulihat seni berdiri kokoh di Binaya

Sambil angin menyanyikan lagu hena masa waya

Kapitan tualena memotong kepala musuh jadi sembilan puluh sembilan bagian

Ketika seni berperang di mata parang

 

            Seni menjadikan kita ada dari tiada. 

 

Kudiajak seni bicara pada sunyi yang panjang di lorong sagu

dan kulihat manusia terhipnotis dengan lagu-lagu

Kulihat seni mematahkan senapan dan bom rakitan di Ambon

Pemuda saling lempar puisi lalu bakupolo, baku sayang minta ampong

Kusaksikan seni menghancurkan doktrin dan rasis suku agama

Ketika perupa melukis cinta di baileo, masjid gereja pura dan vihara

Kudengar pemberontakan politik terhenti di panggung-panggung jalanan

Ketika para rapper mendamaikan keadaan dengan rima persatuan

Seni berperang bersama orang miskin di perumahan kumuh

Ketika anak-anak Buton berjuang keras melawan buta huruf

Seni bicara di negeri huaresi rehung pada jalan-jalannya yang rusak

Saat puluhan komunitas berjuang bersama Ema Bergerak

Seni bakuhantam dengan PT Menara di Aru

Ketika semua seniman melawan dengan SaveAru

Seni berjibaku dalam kekalutan hidup

Ketika sepak bola mengharumkan nama Maluku oleh putra-putra Tulehu

 

Seni menjahit luka yang robek.

 

Seni merdeka di kain tenun mama-mama Tanimbar

Sebelum Tuhan mengirim pendeta di mimbar

Seni merdeka di dalam adat istiadat, di rumah-rumah adat

Sebelum kantor DPR MPR mewakili rakyat

Seni merdeka di dusun-dusun, di gunung tanjung

Sebelum negara dan pebisnis menjual semuanya demi utang dan untung

 

            Seni melawan ketidakadilan dan berpihak kepada yang lemah.

 

Seni ada dalam suku-suku, kata-kata, mantra-mantra, buku-buku, kuku-kuku, lutut-lutut, tulang-tulang, badan-badan, jantung, hati, darah, napas: beta ale, dia, dorang, katong, seni ada dalam satu kain gandong!

 

Seni itu sane: cinta.

 

Ambon, 28 April 2018

Iklan

SELAIN MERELAKAN

Untuk BRAEMS RENDY WATTIMENA

 

Luka ialah penjara baja. Kita tak mudah keluar sekalipun dengan banjir air mata. Selain merelakan, kita akan diserang sepi yang tak terelakkan.

Apa yang kuterima dari kehidupan, kuberikan pada kehidupan. Jika mesti mati, kematianku memberi jalan. Menembusi ujung yang belum pernah ditemui manusia manapun semasa hidupnya. Aku bukan termasuk yang mencari kekekalan melainkan dikekalkan oleh karena mengakui sebagai abu di dunia fana.

Untuk mengerti bagaimana kehilangan ini, kuharap kau tak bakar dirimu dengan kenangan, saudaraku. Ini bukan pilihanku, tetapi karena bagiku disediakan jalan. Aku melewatinya sebagai manusia yang selalu menerima, karena manusia tak sanggup memberi. Aku tahu tangisanmu pilu, melepas semua kepedihan yang coba kau ikat di jantung. Aku juga, setiap detiknya, meski aku tak lagi punya tetesan tangis itu.

Apa yang bisa kujawab padamu sebagai orang yang tak punya jawaban selain pertanyaan. Ketahuilah bahwa sunyi di mata rumah kita, tak lebih menyakitkan dari sunyiku sekarang. Segalanya terang, tetapi terasa gelap. Aku merindu tanpa tulang-tulang. Aku menggigil tanpa badan. Aku merasakan sakit tanpa hati. Melihat tanpa bisa menyentuh. Memandang sebagai bayang-bayang dan berbicara tanpa ada balasannya.

Jangan kuatirkan apa-apa pada yang tidak mesti dan jangan tangisi apa-apa yang sia-sia. Menangislah oleh karena kau membutuhkannya. Aku sekarang tahu, di bahu yang berbeban berat, di situ bertumpuk sejumlah besar rindu. Biar pun aku tak lagi manusia, tetap kurasakan semua, luka itu.

 

Ambon, 2 Juni 2018

 

Time-lapse

untuk Na Boruthnaban

 

Segalanya terasa cepat, andai kau tak lenyap, kekasih

di tubuhku kau tinggalkan, detik

kuhitung sejumlah rintik yang menitik

di halaman mataku yang mendung ini

 

Apa alasan seorang manusia mengejar yang tidak terkejar?

Aku yang mengejarmu, termasuk manusia yang mana.

Lihat, tetap kulakukan, tetap kuberdiri di belokan, tidak akan kulewatkan kendaraan yang nantinya lewat.

 

ini pisau dapur

yang kubiarkan terbujur di dadaku

mau kupakai mengiris rindu

entah bagaimana bentuknya, tiada perlu kau tahu

 

juga, amis angin dari matamu yang laut

bersegeralah kau bawa jauh-jauh

sebelum kubakar dirimu dalam retina

entah bagaimana jadinya, tida perlu kau tahu.

 

Ambon, 24 Mei 2018

Kalau Pemberontak Bernyanyi

Untuk Pane (n) kata – Setyawan Samad

 

Kalau pemberontak bernyanyi, pasti dia akan melagukan Kidung Laut:

“Lawan gelombang, kibarkan layar. Tak ada rasa takut, senapan kupatahkan, seusai hati dan harapan disiksa kehidupan. Lawanlah badai, tiada yang lemah, pada niat yang kuat, diamkan meriam dengan cinta di mata pedang”

*

Aku tahu kamu lelaki macam apa. Macam Banda, cinta ganda, jidat bertanda – kehidupan adalah tiada detak di dada. Berlayar ke laut, ambil tombak yang pernah jatuh, pegang di tangan, lemparkan pada daratan ketika pantai tak ijinkan kau datang.

*

Kalau pemberontak bernyanyi, pasti dia akan melagukan Agung Samudera:

“Kalahkan arus, tentu dan harus. Yatim piatu, dimata pelatuk hanyalah suara batuk yang tak sembuh-sembuh. Biarlah-biarlah, kibarkan layar, sebab angin mesti kau bayar dengan nyawa dan sabar. Patahkan maut, takhlukan laut, sesiapa yang mau, kuletakkan sejarah di raut, sang pelaut”.

*

Lautan yang kau labuhi atau layari, tidakkah ada keadilannya bahkan di dasarnya? Palung dihuni pemulung. Yang menjadi sulung adalah yang bungsu, yang menjadi bingung adalah yang terkurung. Situasi taat pada siklus. Karang dijadikan karangan. Ikan diserahkan pada pelikan. Kita adalah bukti pengorbanan-pengorbanan yang tidak pernah dihargai dan diingat. Mati adalah biasa dan biasa mati adalah perkara biasa. Murahan dan dangkal.

*

Kalau pemberontak bernyanyi, pasti dia akan melagukan Doa Sebelum Mati:

“Di jantung badan, kuhapuskan denyut kekuatiran. Di tempurung lutut, kuusir pergi lautan yang pasang menjadi surut. Jangan berlagak kalau cuma sementara, seperti nyawaku di dalam kehidupan ini, sampai manakah usia bisa berlaku dan sampai kapan aku menunggu jiwaku ini laku?”

*

Kulit yang sanggup sakit, menandai bahwa setiap rasa ada pada kita, termasuk luka. Memikirkan seberapa jauh aku seorang pemberontak membawa kapalnya, sebaiknya memikirkan juga seberapa banyak licin lautan berusaha menjatuhkannya.

Aku bukanlah apa-apa, seperti juga kita adalah bukan apa-apa pada kebenaran yang dipuja dalam dunia orang-orang pertapa. Betapa, ironi dan poni bisa dipotong sesuka hati ketika dipandang kurang cantik.

Bernyanyilah pemberontak, seperti telah merdeka:

“Aku angkat hatiku, pada langit yang biru. Air hujan tak berhasil menyentuh air mataku yang bahagia. Asin lautan tak bisa mengalahkan manis senyumku. Mayat-mayat masa lalu, kubawa pergi ke timur, sebagaimana kapal-kapal selalu berlabuh. Di mana kekasih hatiku, yang senang bernyanyi di atas perahu. Tunggulah aku, badan yang milikmu, yang tak bisa utuh, yang sebagian kepala dijajah kutu”.

 

Ambon, 24 Mei 2018

 

 

Lelaki dengan Flute

Tulisan ini kutulis untuk saudaraku Marco Dhylan Pattianakotta pada usianya yang ke-24.

 

Menjadi seniman, perlu lebih banyak iman”, ucapku waktu itu. Kalimat ini sebenarnya kutujukan padaku sendiri, sebelum kusampaikan padanya. Untuk mengingat Marco, aku mesti kembali ke masa lalu. Jadi, kuceritakan sedikit tentang kisahku bersamanya.

Pada tahun 2009, terik betul hari itu kalau tidak salah, muncul seorang anak berwajah lugu. Saat itu di sampingku ada Amos Laipeny, Roland Tuanakotta, David Minanlarat, Yusmon Lokwatty, Rido Anaktototy. Kami tengah berlomba lari mengitari Kantor BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Maluku yang cukup luas untuk ukuran remaja. Anak itu ingin bermain bersama dan dia bernama Marco Dhylan Pattianakotta. Keesokan harinya barulah aku tahu bahwa Marco merupakan cucu dari Pendeta Pattianakotta dan ternyata rumah kami hanya berjarak dua langkah kaki.

Sehari-hari kami bermain bersama. Berlari setiap sore hari. Bermain sepak bola di tanah kosong yang kini telah tiada. Bermain kelereng, karet, kartu bahkan makan tidur bersama. Kedekatan Marco dengan kami lambat laun menjadi keluarga. Kehadiran Marco pada tahun itu tak lama, karena pendidikan sekolah dasar masih menantinya di Sorong, Papua. Dia hanya menghabiskan masa liburan sekolah bersama kami di Ambon.

Sebisa yang kuingat, Marco kembali ke Ambon sekitar tahun 2011. Kedatangannya yang kedua masih dengan tujuan yang sama, menghabiskan masa liburan sekolah. Kedatangan kali itu, meninggalkan satu cerita. Begini:

Waktu itu aku sedang mencuci sepatu di dekat bak penampungan air, tidak jauh dari dapur rumahku. Marco berlari datang terburu-buru. Ia memegang lengan kirinya sambil memanggil namaku.

“Kaka Eko, dimana?”

“Beta di sini Kokohip, kanapa?”, tanyaku padanya.

Dengan wajah masam, ia menunjukkan lengannya sambil berkata:

“Beta tulang badarah e”

Maka aku tertawa terbahak-bahak karena ternyata hanya kulitnya saja yang sedikit tergores bukan tulang dan tidak mungkin tulang akan berdarah. Dan seperti umumnya orang-orang di sekitar kami, dengan satu kejadian lucu atau aneh yang dilakukan oleh seseorang, maka akan lahir satu panggilan yang akan menyertai orang tersebut hingga akhir hayatnya. Sejak saat itu, kami memanggilnya “Marco Tulang Badarah”.

Lalu, Marco pergi kembali. Kalau ingatanku tepat, setelah kepergian yang kedua, ia kembali lagi pada tahun 2012, mengambil satu-satunya kaca mata hitamku. Kedatangannya yang ketiga, telah membawa perubahan. Marco telah tumbuh sebagai remaja. Kami akhirnya kembali bermain bersama dan mulai mengenal musik hiphop. Sejak saat itu, Marco akhirnya menyukai musik. Juga, semua di antara kami mulai membangun mimpi. Mimpi itu kian nyata, setelah Marco menetapkan untuk mempelajari musik di Ambon.

Bertahun-tahun setelah kedatangannya, ia bersentuhan dengan banyak komunitas sastra dan musik. Pertemuannya dengan banyak pengalaman, perjumpaannya dengan banyak seniman, seperti Rudi Fofid, akhirnya memberi jalan baru untuk ditapaki. Perjalanan karirnya pun dimulai. Dari panggung jalanan ke panggung kemanusiaan, ia hadir. Marco memilih flute, sebagai jiwa musiknya dan melakukan perjalanan hingga sekarang.

Selain itu, bersama-sama dengan kami, mendirikan Bengkel Sastra Kintal Sapanggal pada tahun 2016 dan terus bergiat dengan mimpi yang tetap sama.

Masa-masa sulit dalam dunia musik, sastra, dunia Maluku ini mulai dikecap satu demi satu. Bertahan di era yang tetap mendahulukan kepentingan-kepentingan memang tidaklah mudah, akan tetapi apalah artinya menjadi manusia jika tidak berhasil menakhlukan kehidupan, meski yang tersisa dari diri sendiri adalah harga diri itu sendiri.

Aku sangat bersyukur, bisa tumbuh bersama orang-orang muda yang akan menjadi harapan seni masa depan Maluku. Mereka yang pernah bermain bersamaku pada masa kecil dulu, kini tumbuh menjadi manusia-manusia dengan niat besar dan niat selalu bisa membikin mujizat. Marco Dhylan Pattianakotta, Roland Tuanakotta, Amos Laipeny, David Minanlarat, Yusmon Lokwatty, kawan-kawan masa kecilku, tentu kalian akan menjadi berguna bagi kehidupan ini. Salam.

 

Catatan – Eko Saputra Poceratu, 24 Mei 2018

 

 

Imago dei

untuk pelukis, Tessart Saiya:

 

Ada wajah Isa Almasih di atas kanvasmu yang putih. Eden terbentuk dari tinta cair keringatmu. Empat sungai mengalir ke tiga batang air. Adam turun ke Nunusaku, Hawa berenang di arus Haya. Jauh ke sana, Gabriel melepas sayap-sayapnya jadi debur ombak di Banda.

Garis. Buatlah garismu. Sketsa perempuan Buru yang diburu mercury. Gambarlah anak-anak Manusa yang buta cakrawala. Lukislah bayi-bayi Hukuanakotta yang mati di samping jasad ibu mereka. Garislah dengan kuas, ruas-ruas jari, ruas-ruas tulang, orang-orang yang ketagihan miskin dan yang menagih jatah hidup pada Tuhan juga yang berpesan untuk segera dibikin peti kayu lenggua.

Gerak tari perempuan Sunda yang menunda kepulanganku kepada bapa di Surga, juga mesti kau lukis. Tuhan pun tercegat olehnya saat hendak berfirman.

Bikinlah peta kemiskinan, berikan pada mimpi-mimpi, apa yang itu kenyataan. Laut menyurati gunung, tanah menyurati langit, aku menyurati setan, kau menyurati siapa di dalam lukisanmu?

Tolong kau bayangkan. Lelaki dengan mata kejora, berdiri di bawah pulaka sambil menginjak tanah pusaka dan menyanyikan hena masa waya tanpa gugur air matanya. Bayangkan, tolong kau bayangkan. Hitam kehidupan ini tercurah ke mana sebelum menjadi malam.

Banyak budak menginginkan bedak untuk menyangkali dirinya. Badak melepas cula, dunia mendadak lupa, pada semua yang ada di dalamnya. Kau lihatlah kita, manusia-manusia berharga yang dianggap tak berharga. Kita adalah produk yang laku di pasar insternasional, viral.

Lukislah Tuhan dengan baik, aku mau membelinya. Kusimpan sebagai milikku, Tuhan dalam kanvas, Tuhan dalam napas, Tuhan dalam kapas, Tuhan dalam batas!

Sisakan tempat di hatimu, untuk manusia punah yang mesti diingat. Jangan melawan lupa, kau bisa digagalkan usia, lawanlah ketidakadilan, sesekali berhasil (itu lebih baik).

 

tambahan: Pelangi pelangi /Alangkah indahmu/Merah, kuning, hijau/Di langit yang biru/Pelukismu Agung, siapa gerangan/Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan! (lirik lagu)

Ambon, 16 Mei 2018

moedig zijn

kutulis puisi ini untuk laki-laki berani mati!

(1)

Belanda melanda Banda,

jauh sebelum Landrente sampai Hongi Tochten.
Jauh sebelum pala jadi berhala Inggris dan dewa Eropa,

Tuhan telah membangun surga bagi ikan-ikan di Nailaka.

Menarik semua meriam dari neraka datang mencari jatah.

Semua nyawa butuh pesangon.

Bunga-bunga pala gugur di London seperti salju.

Bintang-bintang di jidat langit merayap ke Maluku.

 

(2)

Lihatlah kau, dari mata parang keluar Pattimura.

Lelaki mena muria

Siapa hendak mati, dia tebas kepala

Lautan berkaca pada Duurstede dan darah mengalir ke Waisisil,

tak ada maut berakhir maut

Patih-patih terbang bak merpati

Senapan-senapan tumbang seumpama dahan-dahan,

tetapi pertempuran tiada pernah usai

Mata jatuh, mantra beradu, seribu nyawa menjelma batu

 

(3)

Gerilya perang ditipu gerilya politik

Bahasa diadu buah dadu

Kapitan dan raja tukar ruas bambu dengan ruas tulang

Meti besar di laut, peti besar merebut raut

badan tanpa calut, orang-orang kalah nalar

 

Pembaptisan adalah penjajahan

Penjajahan adalah taktik politik

Kepentingan memenuhi kegentingan

Pattimura cakalele sambil darah meleleh,

mengalir dari kemudi kole-kole,

pada laut Saparua yang tidak jua surut amarahnya

(4)

Lihatlah anakmu, tombak yang tidak terarah pada musuh. Parang diganti gadget, berang diganti pita. Pasukan-pasukan berani, lenyap sejak dari mani. Kartini dengan emansipasi dijadikan senjata politik. Kau sendiri adalah alat tukar ekonomi yang sudah habis masa pakai. Dunia tak lagi berperang dengan bambu, tapi dengan isu. Benteng, patung, kuburan, semuanya adalah tempat tersunyi dan terabaikan. Orang-orang mengingatmu untuk melawan lupa bukan untuk melawan rupa-rupa yang pura-pura, rupa-rupa yang kini menjadi dupa.

(5)

Adakah kita bisa saling bertemu selain pada artikel dan cerita lansia yang selalu berbeda? Buku-buku terpadu selalu penuh penyakit, aku tak suka membacamu pada tulisan tangan mesin-mesin tersistem.

Datanglah jam 12 malam, di Waisisil yang sepi. Masih kental aroma kematian di situ. Aku menunggumu seorang diri, barangkali kita bisa berunding. Sekarang kau di pihak mana? Pribumi atau pemerintah? Sekarang, parangmu untuk memotong apa? Kepala atau kelapa? Selain itu, ada beberapa hal yang mesti kita bicarakan. Berdua saja! Moedig zijn?

 

Ambon, 15 Mei 2018

sumber foto: https://jempoltangan.com/biografi-kapitan-pattimura/

Selamat Bercinta

untuk saudariku Chery Pattiasina dan Geraldy, sang suami.

 

Surat ini mesti kutulis dengan rela dan bahagia,

1.

Kau telah menanggalkan masa lalu dan mengenakan masa depan. Tentu aku saudaramu, dalam perjalanan yang jauh, berharap air matamu jatuh untuk sukacita yang besar hari ini.

Aku yakin, betapa ibumu senang. Berdiri di sampingmu saat cincin kau kenakan dan ciuman memeteraikan cinta. Tuhan yang romantis, tidak bisa kau temui dalam nalar. Lihatlah, rasakanlah, ibumu memeluk lenganmu yang lembut untuk melenyapkan semua rasa gugup.

Cinta itu tiada tertandingi kekuatannya.

Tentu, mulai detik ini, detakmu tak lagi sendiri. Letak hatimu menjadi tetap pada hatinya. Hari-hari akan menjelma tahun-tahun baru dan kasih sayang dapat dirayakan mulai dari teras sampai dapur.

Masaklah makanan yang asin, besok tapi jangan lusa. Jadilah garam dan jangan tawar hati. Kesetiaan bertumbuh pada dahan hatimu, jangan patahkan miliknya dengan angin-anginmu.

Lahirkanlah anak yang seperti ibumu, kuharap itu. Kebaikannya, kesederhanaannya, cintanya, matanya, hatinya, segalanya.

Nanti dari pintu rumahmu, kau bisa melihat bagaimana hidup menjadi tempat manusia datang dan pergi sebagai keharusan. Kau sendiri, tetaplah menjadi mata untuk kaki dan kaki untuk mata. Perjalanan besar tidak boleh dilalui sendiri.

 

2.

Belum pernah kujumpa suamimu itu. Entah bagaimana sifatnya, sikapnya. Aku percaya pada pilihanmu, bukan pada jawabanmu yang biasa pada lembar ujian di kampus. Lelaki yang kini akan membawamu ke mana-mana selaku bini, biarlah menjadi yang terbaik dalam segala situasi.

Jagalah rasa, warnailah masa. Kutahu bagaimana saudariku itu penuh lemah, demikian juga kau, maka jangan biarkan kelemahan menjadi hambatan untuk mengumpulkan kekuatan cinta dari satu hari ke hari yang lain.

Kalian berdua sungguh hebat, harus kuakui. Menikah di musim hujan itu tidak gampang. Banyak akan basah, termasuk pipi dan dagu. Curah hujan terus tak menentu, namun cinta kalian mesti punya kepastian dan tidak boleh digoyahkan usia.

Selamat bercinta, rayakanlah kebahagiaan dengan kesungguhan.

 

Esp, 14 Mei 2018 : maluku.

catatan- kupilih fotomu yang ini karena mengingatkanku pada rupa ibumu.

SALIB TANPA YESUS

dari sebuah mimpi yang kuterima tadi malam:

Sunyi sekali, tubuh gereja. Tirai kulit bambu. Desir angin anyir. Bangku-bangku kayu, rapuh. Mimbar besi reot. Percakapan menara dan tanah, tak terdengar. Kucium nanah dan darah dari air baptisan.

Kulihat seorang lelaki, di antara ribuan pria. Duduk paling tengah, paling mendesah. Lorong-lorong kursi sesepi hutan, lampu-lampu redup. Kaca memukul kaca, jendela membela tiang. Di depan mataku, lelaki itu, menutup matanya. Salib tanpa Yesus, sebaris kepalanya. Paku-paku mengucurkan air mata dari entah. Semua orang berbicara sendiri-sendiri dengan ketiadaan. Tubuh-tubuh kehilangan ruh. Sesiapun itu, tak utuh.

Kudengar, paduan suara merayap dari kitab paling besar di mimbar. Lelaki yang paling tengah, membuka matanya pertama kali seolah-olah di eden. Dua lengannya menyilangkan pedang. Bunga kalam susu jatuh dalam sembahyang. Mata memeteraikan kebutaan, iman melayang-layang di atas jidat semua orang.

Dalam sunyi yang bukan hening, tetapi ketakutan, kudengar ia bernyanyi:

Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds
Have no fear for atomic energy
‘Cause none of them can stop the time
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look? Ooh
Some say it’s just a part of it
We’ve got to fulfill the Book
Burung-burung gereja berkumpul di atap. Angin kecemasan memukul lonceng. Ranting-ranting cemara patah dan terpisah dari daging. Kupandang di dalam pikiran, tersembunyi ledakan besar. Tak seorang pun berkhotbah, tak seorang pun berjubah, tak seorang pun berubah dari kesementaraan.
Lelaki yang duduk tanpa kitab suci, berfirman dengan emansipasi. Kesendirian menindas yang lemah, kelemahan menguraikan diri sebagai kekuatiran.
Di depan pintu gereja, anjing-anjing berbaris membawa persembahan. Tulang-tulang bayi – lansia dimasukkan sebagai nazar.
Jalan-jalan sangat panjang dan sangat samar. Tiada pepohonan hijau atau maria dengan minyak zaitun. Kaki-kaki mengelupas, dingin lahir dari rahim keinginan yang berangan-angan menjadi Tuhan.
Dan, semua pria keluar meninggalkan gereja. Tanpa sapa dari siapa kepada siapa. Tanpa apa-apa dari bunyi sepatu ke bunyi sandal. Jas mewah dan dasi hitam mengurung kebebasan. Orang-orang kehilangan kata di dalam aturan. Kalimat diciptakan untuk menulis selamat dan kiamat.
Surga memancar dari pemancar. Neraka bersandar di lembah. Waktu berselancar dari angka ke angka, kita hanyalah kerangka. Duduk dalam bisu, dengan isu dan nafsu sambil mengaku segala dengan ragu.
Kulihat lelaki itu, yang paling tengah. Tetap di situ, di tempatnya. Memandang Tuhannya yang tiada wujud. Matahari dikubur malam tetapi mata api mengitari kepalanya. Gerimis jatuh bangun di luar.
Aku tertidur di dalam ingatan, ini malam tak ada yang terbenam.
Ambon, 13 Mei 2018
Gambar: Wallhere.com

Blog di WordPress.com.

Atas ↑