SEBENTAR LAGI, KITA PANASKAN DADA

Salam kawan-kawan, sebentar lagi kita akan menuju ranjang. Ikutlah, kita panaskan dada bersama di Ranjang Puisi 2 yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Maluku, Paparisa Ambon Bergerak dan The City Hotel (13/02/2018.

Kami akan membawakan dua belas puisi bertema ranjang dengan kejutan di setiap puisi itu sendiri. Akan ada penampilan perdana Nona Kanidya Christandira Tuhumury bersama Coselisa Tiwery (duet musikalisasi muda berbakat)yang membawakan puisi Buka Baju dan Selimut Hanyalah Kain. Kawan-kawan akan dihibur oleh lagu-lagu dari Otoskopi, yang akan membawakan beberapa lagu istimewa. Petikan gitar Ronny Nanlohy akan ditemani gesekan biola nona Olivia Sahulata dan suara saxaphone pemusik muda Marnes Pasalbessy. Kolaborasi orang muda ini akan menjadikan ranjang puisi benar-benar seperti tungku api yang siap membarakan cinta kalian.

Selain itu, group musik Rap, Labrackh Clan (Roland Tuanakotta dan Amos Laipeny) akan membawakan sebuah lagu “PUISIKU” yang juga terinspirasi dari puisi bertemakan cinta. Tentu kehadiran musik rap di ranjang puisi akan membawakan nuansa berbeda namun tetap panas dalam lirik dan musik. Kolaborasi kata dan musik akan membawa kawan-kawan jauh meninggalkan ruang sempit pikiran menuju kemerdekaan rasa.

Marthen Reasoa akan membacakan puisi-puisi terbaik seperti Hujan Bertemu Dada, Rimba Ranjang dan Dibabat Kesepian. Puisi-puisi yang tentu saja, tidak akan disesali oleh telinga dan hati kalian.

Besok, jam 8 malam, di lantai 7 The City Hotel, datanglah dan temui kami di ranjang: kami akan menunjukkan pada kalian, bahwa bercinta tak sebatas ranjang dan ranjang bukanlah ajang pembuktian rasa. Ayo panaskan bersama, cinta yang dingin di kota yang mulai hujan. (ESP-MR)

Iklan

MARI, KITA KE RANJANG

Kawan-kawan, mari ikut kami ke #Ranjangpuisi2, kita akan menulis banyak puisi untuk kalian.

Di akhir tahun 2017 yang lalu, saya dan Marthen Reasoa bersepakat membawa ranjang puisi kami kepada kalian di Workshop Coffee Ambon. Dengan sederhana, kami berusaha panaskan dada kalian yang dingin oleh kesunyian dengan puisi-puisi “panas” yang nikmat dimaknai bersama malam dan kopi.

Ranjang puisi bukanlah kumpulan puisi yang kami tuliskan begitu saja. Dia adalah altar, bagi kita yang memaknai ranjang dengan baik. Bagaimana kita menghargai ranjang sebagai tempat kudus yang mesti dimasuki berdua setelah melalui proses pernikahan yang benar. Puisi-puisi kami sebetulnya menceritakan banyak segi tentang ranjang namun tujuan kami tidak jauh dari inti tadi. Kami tidak ingin ada kekerasan di ranjang, kami tidak ingin muda-mudi mengotori ranjang dengan kemudaan dalam tafsiran cinta yang liar namun menyesatkan. Bahwa cinta perlu dibuktikan dengan kasih sayang bukanlah dengan pembuktian di atas ranjang. Ukuran cinta bukanlah ukuran badan dan kepuasan seksual melainkan kasih sayang dan tanggung jawab.

Jadi, mari maknai ranjang dengan sisi yang lebih baik. Kami jadikan ranjang sebagai puisi untuk mengajak kawan-kawan mengenal dengan lebih dekat makna ranjang itu sendiri. Pada Ranjang Puisi I, Quinn Pattinama, J.M. Lalilatu, Marthen Reasoa, telah membawakan puisi-puisi itu dengan baik dan dengan harapan yang baik pula. Iringan musik Ronn Nanlohy, berkolaborasi dengan Stella Thirsa, Marco Pattianakotta dan jebolan Fis Project, Chrisema Latuheru, menjadikan ranjang puisi menjadi ranjang musikalisasi yang merdu dan tetap panaskan dada.

Kami berdua, melalui apresiasi yang besar dari kawan-kawan pecinta sastra, kawan-kawan komunitas, telah merancangkan hadirnya #Ranjangpuisi2 yang akan dilaksanakan tanggal 13 Februari 2018 di The City. Akan ada beberapa kejutan dalam ranjang kali ini, salah satunya, penampilan penyair muda Kanidya Christandira Tuhumury dan MC Keren Mark Ufie. Ranjang sementara kami persiapkan sebaik-baiknya. Selamat menanti, dinginkan dada, lalu siapkan panaskan di tanggal tiga belas. Salam ranjang, salam sastra.

Ambon, 6 Januari 2018
Eko Saputra Poceratu dan Marthen Reasoa.

DIPETIK

Aku datang di hadapanmu sekarang
kubawa ranting kering yang gugur dari hatiku
waktu mematahkannya
dan ia jatuh
seperti juga rindu
berawal benih
lalu tumbuh
berbuah
matang
kemudian terlepas dari dahan
dipetik kepergianmu

Ambon, 4 februari 2018

HUJAN RINDU DI DAGU

Untuk perempuan yang tidur di kaki merbabu

Bisik-bisikmu membangunkan aku di kasur pagi ini. Hujan deras sekali sayang, namun suaramu di telinga dapat aku dengar dengan baik. Aku raba wajahku sendiri, seperti meraba teluk pipimu. Ada sisa lipstikmu yang masih melengket di bibirku. Aku menjaganya sampai purnama berikut. Merah itu, kekuatanku untuk menerima senja dan menghadapi malam.

Hujan turun di atap, aku basah di dada. Hujan jatuh di tiris dapur, aku basah di dagu. Pintu terbuka sendiri oleh angin. Jendela bergoyang oleh angin. Dinding gemetar oleh dingin. Aku rindu padamu. Lorong-lorong sempit dibanjiri daun-daun muda. Kau tak menua dalam cinta. Orang-orang menukar waktu dengan kerja, aku membangun kerja untuk cinta.

Hujan turun di dagu. Aku seorang saja di dalam kabut. Dijagai lembah dan gunungnya yang setengah hijau. Sungai-sungai kebanjiran lumpur, di masa ini manusia sudah tak memerlukan sumur, kecuali umur. Aku memerlukanmu, sayangku.

Ambon, 3 Februari 2018

Christ-and-ira

Untuk Kanidya Christandira Tuhumury

Siapa mengira, bumi dan perutnya masih sanggup melahirkan matahari di zaman ini
bersinar di antara lampu-lampu jalanan
di tengah mata-mata keranjang sialan
di dalam arus politik kepentingan

adakah pria dan wanita
jadi waria dan lesbian
untuk mengelabui kemiskinan
yang sudah lebih dulu menipu kenyataan?

padamu, aku bawakan kertas
bekas tulisan kemarin dulu
masih ada mimpi yang mesti membara
di antara drama manusia-manusia patah

jangan takut
pada kejahatan yang menikam pinggul
ambil senapan
tembak ke sasaran
lihat berapa banyak keraguan mati di depan!

Ambon, 30 Januari 2018

DI KAFE AKU MERINDU

ditulis oleh Eko Saputra Poceratu dan Jaquaeline Matital

di kafe, aku dan sore, mengalami malam.

Kendaraan dan rindu yang macet bikin aku ingat padamu
Suaramu dalam kesunyian ialah kemerduan yang bising
Orang-orang yang bisu dalam diskusi membawa satu tanda tanya
ketika tawa bukanlah bentuk akhir dari jawaban bahagia

Gedung yang kau bangun di jantung kota
bukankah itu ketinggian hasrat ?
Mesra dan amarah termasuk cara aku mencintaimu nona
Nuansa yang ada membawaku melihat keindahan gairah

Lampu mewakili matamu sayang,
terang jalan cinta ini
Musik menguasai ruangan ini
manakalah jantungku membunyikan jantungmu

Menu hari ini adalah asam rindu,
pahit rindu dan dingin sepi di gelas Cappucino
Pengunjung yang lewat seumpama angin,
mengajariku bagaimana waktu bisa begitu cepat tinggal

Kawan bagi seorang perindu sepertiku adalah imajinasi
dan dari imajinasi kutemukan kau dalam lembah inspirasi

Ambon, 30 Januari 2018

JANGAN JINAKKAN CINTA

oleh Eko Saputra Poceratu dan Jeisin Masrikat

Ruang yang paling dalam hati
Perasaanku adalah lawan hasrat rinduku
Aku tunggu dengan sepenggal kalimat
Padahal sudah berlalu sejak kemarin

Tunggulah aku diseberang sana
Biar hanya menatap dalam kabur ku
Tunggu saja satu pelukan hangatku
Aku ingin akhiri satu puisi diingatanmu

Aku mau kau, tulis puisimu di bibirku

Dengan hati yang takarung
Akibat hipnotis tinta emasmu
Aku titipkan garis lurus tanpa titik
Pada bibir merah semerah darah

Aku mau menulis di sepanjang bibirmu
Biar kau resap habis seperti lebah
Karna aku yakin manisnya madu di bibirmu
Dan, tinta yang ku taburi bukan sekedar pemanis

Aku mau kau tulis puisimu, di dadaku

Biar debaran didadaku sedikit redah
Akibat rindu yang membuat sesak
Setidaknya ada sebait yang kutuangkan
Supaya rindu yg ku pendam sedikit membuat legah
Aku mau, aku mau
Dan aku benar-benar ingin kau menuang didadaku
Supaya hanya kau yang tau beban didadaku
Tolong jangan berhenti pada tancapkan tinta
Tinta manis yang menghapus ragu-ragu

Aku mau kau tuliskan puisi, di pusarku

Tapi usahakanlah supaya aku tidak terjebak
Dalam cintamu

Aku mau kau tuliskan puisi dipusarku
Supaya tetap ada yang terhubung
Tidak terasa geli sesaat
Tetapi tintanya menjadi arus perjalanan cintaku

Aku justru mau kau terjebak, dalam ketidaktahuan yang sesak, biar aliran cinta tidak sanggup kita tebak

Aku pikir ini teka teki cintamu
Mungkin kau simpan dalam dalam jalurnya, kunci untuk aku keluar masih samar-samar
Maka biar saja aku tetap disana
Bila itu yang kau ingini,
Dan, bawa aku lebih jauh ketingkat samudra cintamu, mungkin aku akan lebih paham

Ikutlah aku dalam rimbaku, kau akan jadi liar, dan cinta tidak perlu kita jinakkan

Ambon, 29-30 Januari 2018

KOPI DI GELAS

Kopi di gelasku
Wakili kampanye pemilu
Truk dan sampah di dalamnya
Jadi makanan pemulung kota

Masih ada rokok
Pajak tinggi negara
Ditukar dengan harga pangan pokok
Rakyat marah cari perkara

Lebih tenang pelacur di penginapan
Atau yang sudah masuk rumah tangga orang
Main senyap di ranjang
Tanpa bikin persoalan panjang

Lalu banyak organisasi
Merancang proposal dan kirim delegasi
Cari money hasil korupsi
Dari caleg pandai konspirasi

Semua orang dengan ideologi
Bawa gengsi walau dalam analogi
Beda tipis dengan remaja yang belajar biologi
Merasa mengenal tubuh lebih baik dari pelajar antropologi

Kopi di gelas
Uang diperas
Api di teras
Peluang dikuras

Semua kepentingan menghamili kepentingan dan melahirkan bayi kepentingan dengan lebih banyak keinginan.

Ambon, 29 Januari 2018

BANGUN

Untuk Kevin Sugiyanto

Dinding sudah rapuh
seperti buruh di dermaga
patah hatinya ditinggal kapal tujuan Jayapura
banyak rupiah lenyap di kota yang punya banyak piala adipura
angin dan ayam sekarang
bahkan ikut berpura-pura
angin dingin tapi kemarau
ayam mau sarapan roti
manusia dan binatang
beda nalar tapi serupa hasrat

aku jadi ingat padamu kawan
lelaki setia di ruang tunggu pelabuhan
menaruh harap pada ombak-ombak
tanpa hilang mata tombak

cinta yang kau simpan di saku
sebelum kau buka lembar buku
itu termasuk dia dan aku
kekasihmu dan gelisahmu
pada satu arah mata angin
yang memaksamu membuang ingin
di tempat sampah negara ini

bangun kawan
lihat sastrawan dan sejarahwan
baku melawan
melakukan pemberontakan
pada kehidupan
yang sudah dikencingi politik
dari masa ke masa

apa kau masih mau tetap tidur
di kasur republik
dengan sopi dan anggur
di dalam gelas terbalik?

jawab! jangan diam!

Ambon, 29 Januari 2018

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑