Amor vincit omnia

ayah.jpg
cinta mengalahkan segalanya

Apa penting suatu agama bagi orang yang mengimani kasih kepada sesama. Apa begitu perlu, suatu penguraian bagi orang yang menyemaikan cinta kepada sesamanya. Di atas tanah yang sejatinya segala berasal, apa ia menolak tulang dan dosa-dosa seorang manusia.

Tidak peduli sebutir peluru di dalam senapan. Tidak lebih baik dari sebutir telur di atas perapian. Aku cuma ingin damai yang matang, hangat, di hadapan kursi-kursi yang membikin kita saling memusuhi.

Aku ingin bersulang berulang-ulang pada kesendirian yang memunculkan rindu dengan lebih berpendirian. Wajah suatu perbedaan tidak lagi tampak dalam kabut pilu. Berseru, deru angin lalu di laut, mengayuh suara-suara yang kalah dan berdarah, dibunuhi oleh kehilangan.

Hujan telah berperang. Genting ketakutan, digunting oleh kematian. Filosofi tumbang kala sepi jadi tembang. Aku mau tetap tinggal dalam rumah, dengan musuh yang ramah, duduk bersamaku, bercerita tentang harapan yang tertutup papan.

di manakah rasa pahit dalam seteko kopi yang dipanaskan api untuk kita hari ini.

Ambon, 21 April 2019

Iklan

WATER CANNON

Pejabat ya pejabat. Jabatan mereka adalah jembatan mereka. Mereka pakai untuk menghubungkan uang dengan kekuasaan. Kalau harapan rakyat ada di ujung jembatan, maka aparat akan melenyapkannya dengan gas air mata dan menghanyutkannya dengan water cannon.
Banyak yang telah kulihat dari mata lorong ke selokan. Mengalir pembalut-pembalut penuh darah ke laut,. menjadi ikan bagi para nelayan. Banyak yang telah kudengar, dari bunyi lonceng di menara, bunyi jam raksasa di jidat kantor walikota tentang peringatan akan kemiskinan yang terus lahir. Banyak yang telah kurasakan dari kulit ke hati, bagaimana baliho-baliho menipu orang dengan halusnya, memberi harapan, menaruh ayat-ayat kitab, memberi gula-gula impian, seperti menceritakan sebuah dongeng pada anak-anak sebelum tidur.
Pejabat ya pejabat, Jabatan mereka ialah kekuatan mereka. Mereka pakai untuk menindas rakyat. Kalau ada yang mencoba melawan, mereka lenyapkan dengan pengalihan berita. Televisi telalu politis. Politisi bisa berteleportasi dari hari minggu ke hari senin tanpa ada cacatan dosanya. Youtuber mereka bayar. Musisi mereka bayar. Aktor mereka bayar. Pengacara mereka bayar. Jaksa mereka bayar. Polisi mereka bayar. Panggung mereka lengkap. Penuh talenta. Penuh aksi. Penuh ekspresi. Berkilauan, memukau semua kawan dan lawan.
Banyak yang telah kutemui di negeri-negeri yang sunyi, mesin-mesin membangun kerajaan mereka. Menggeser politik beras dengan menjalankan politik agama, etnis sekaligus membentuk ideologi propaganda sambil menghabisi masa panen para petani. Sagu diganti dengan sawit. Suku-suku diusir dari hutan mereka sendiri. Penguasa merenggut tanah adat dalam UU dan membunuh aktivis pembela hak asasi manusia sesukanya.
Sambil melihat suami mati, istri mati, anak mati, keadilan telah mati berkali-kali, dikubur berkali-kali, dan masih saja kuburan itu digusur untuk pembangunan pabrik.
Pejabat ya pejabat, hari ini sahabat, besok saling babat!
Ambon, 16 April 2019

MAKAN SUSHI

HUTAN LIAR.jpg

Bercinta dalam politik itu tak pernah pakai kondom. Mendesah dalam banyak idiom. Berbisik seperti opium, sambil meneteskan liur liar di kasur pesiar. Langit bumi ada dalam celana dalam, surga neraka dijamin oleh pengaman. Oligarki menyembur dalam hierarki. Hutan dan laut disimpan dalam saku. Dikeluarkan nanti kalau sakunya basah, dibanjiri sperma, hasil onani meja bundar.

Ruang-ruang pertemuan yang diukir dalam akar-akar pohon, tidak menjadi akar-akar rakyat. Akar persoalan tidak dicabut malah diwariskan untuk akar rumput jelata. Elit-elit di angkasa, mengapung bagai satelit, memancarkan kekuatan mereka pada bima sakti yang tak yang peduli pada siapa yang nanti mati.

Partai seperti pasir di pantai. Terlampau banyak. Diangkut tak habis. Digali ketemu kerikil. Pikiran-pikiran yang melilit otak, melilit hukum, mempersulit hidup banyak orang, sebab kepentingan banyak orang tak sebaik kepentingan kemaluan satu orang. Angin dan burung, ingin dalam sarung, mereka sama-sama bertarung untuk main di panggung, menyiksa mata punggung rakyat yang terus tumbang di tambang.

Irama menemani drama, air mata memecahkan kaca-kaca perusahan. Laut memarahi musim dalam kekeliruan yang rancu pada nelayan. Sebelum petani turun dari gunungnya yang gundul, pesisir telah disisir menjadi satu garis lurus dermaga yang sudi menghancurkan mimpi bau kencur anak-anak miskin.

Kalau enaknya pakai dasi, makan sushi dari menteri sendiri, apa kurangnya nutrisi dalam otakmu untuk bisa membedakan mana manusia dan mana binatang. Manusia makan makanan bukan makan abu. Manusia minum air bukan minum mercury.

Di dalam kandang, pelihara ayam. Bertelur, dipasarkan. Di luar kandang, pelihara anjing. Beranak, dihabiskan. Sembelih hewan tak cukup, mau sembelih anak juga?

Ambon, 15 April 2019

PEMERINTAH BUKAN TUHAN

hutan

 

 

Saudaraku, pemerintah kita bukan pengabul

Mereka adalah pengumpul

Pengumpul aspirasi untuk melakukan konspirasi

Mereka adalah agen rakyat

Yang menyimpan informasi untuk merancang strategi korupsi

Jangan meminta terlalu banyak seperti peminta-peminta.

Jangan berharap sampai terlunta-lunta.

Mereka bukan Tuhan

Mereka adalah manusia ber-Tuhan yang berlagak jadi tuan

Jangan meminta apalagi mengemis

Kita masih punya harga diri yang sudah lama mereka jual beli.

Dan bagi kalian yang berteriak di tanah asing

Jangan bermimpi di perhatikan terlalu sering

Sebab kami yang di bumi pertiwi, sudah ketagihan memberontak daripada berteriak

Hidup sebagai pemimpi, perjuangan laju semacam tombak

Meski, mereka bilang kita kalangan bajingan

Tikus selokan dengan sandal seragam

Mereka bilang kita orang-orang bajingan, yang suka datang minta makan

Tapi katakan dengan lantang kepada setiap ulu hati mereka

“Bila bajingan seperti kita mampu bertahan hidup dalam sengsara, mengapa bajingan seperti mereka malah lempar batu sembunyi tangan!”

 

Ambon, 28 September 2014

JANGAN MENANGIS SENDIRI

HUTAN 1.jpg

Mengapa kau minum air laut dan memilih membuang air matamu kepada sapu tangan jika rasa keduanya begitu sama?

Jika kau kau takut pada bibir-bibir orang maka petiklah buah bibir mereka dan makanlah selagi belum busuk dan jatuh.

Kau bukan ketakutan, jadi jangan takut. Kau bukan keraguan jadi jangan ragu. Kau adalah kekuatan maka kuatlah dan kuatkanlah yang lemah serta yang tertindas oleh kekuasaan.

Tidak perlu bersedih sendiri di hutan gundul peninggalan pemerintahmu. Kita bisa bergembira di genangan banjir air mata ibumu yang jernih dan menyegarkan.

Kalau nanti tubuhmu sudah mengering, pepohonan mengering, kesombongan orang-orang mengering maka matahari akan tidur dan hujan akan kembali gugur di bulan yang penuh dengan sinar-binar-matamu.

Ambon, 12 April 2019

 

 

HUKUM MASIH RABUN, MARSINAH

56544585_2287967078130015_496841520448536576_n

Marsinah, – hukum masih rabun, daki tak kunjung ketemu sabun, kecuali sabu.

Setengah abad angin berputar-putar di langit, tidak pernah ia turun ke bukit, apalagi menyinggahi daun-daun layu.

Pileg tetap pilek, berat bersih sekarung beras seberat bersin selusin hidung yang masih hidup dalam ideologi ingus.

Musim ganti musim, rezim tetap rezim. Rahasia dirazia, tetapi mahkamah agung tak pulang sia-sia. Penyelidik dibentuk, tim khusus dibeberkan di depan umum, membilang segala yang dikarang dan bukan yang ditemukan.

Tak ada bedanya, puluhan tahun lalu dengan kini, kecuali pada bentuk wajah lembaga yang kian gemuk dan berminyak.

Perempuan sepertimu, mati setiap hari seperti tikus di jalan raya. Ingin menyeberang, segera ditabrak. Ini tetap tinggal, lantas diusir. Sesiapa yang hidup gelisah dalam kebenaran, akan dikejar dan dibunuh oleh kejahatan: biasanya, kebenaran terungkap sangat lama, bahkan sangat lama.

Ambon, 10 April 2019

#salingmengingatkan
#ingatmarsinah

UNTUK SEORANG PETARUNG

54369286_10214398950195801_8351066077412720640_n
Priska Birahy, – untuk seorang petarung

Manusia yang percaya pada cinta, beriman pada kasih sayang, tulang-tulangnya ialah yerikho, darahnya ialah nil, bait-bait rusuknya ialah bait suci, air matanya ialah tigris dan bibirnya ialah zaitun.

Bertahun-tahun orang mencari diri mereka sendiri dan aku ikut rombongan pencari diri sendiri yang telah lama melupakan diri sendiri. Manusia yang meyakini cinta, diyakini oleh perasaan terkuat, bahwa di atas segala sesuatu keterbatasan, ada yang tidak terbatas, yang bisa kita terima nantinya.

Aku ingin sekali mengajakmu ke galilea, melihat emas digali dan mayat dikuburkan seusai penyaliban adat istiadat. Sebelum nantinya kita naiki perahu untuk membelah laut teberau, aku ingin kau tahu, bahwa hukum-hukum terutama ada pada hatimu: kasihilah sesamamu dan bantulah dia semampumu.

Jika dunia di otakmu begitu luas, ditinggali binatang buas, jangan bunuh liarmu demi menjadi jinak pada kesempitan rasa nyaman sebab aku ingin bertarung denganmu sebagai pendosa melawan pendosa sampai tiba di dolorosa.

Kita adalah ada dan tiada tidak ada.

Ambon, 9 April 2019